Menjelang akhir tahun, pertanyaan yang kerap di dapat para pejalan biasanya seputar rencana perjalanan di tahun berikutnya. Ada yang dengan lantang menjawab ingin lebih banyak berwisata di dalam negeri, ada juga yang ingin menuntaskan mimpi mengunjungi belahan dunia lain. Luar negeri atau dalam negeri, semua baik. Indonesia memang cantik, tetapi Tuhan maha adil, Ia juga menciptakan banyak kecantikan lain di berbagai belahan dunia. Kemana saya akan pergi tahun depan? Sudah ada beberapa rencana perjalanan yang dibuat dan sedang dirangkai, baik dalam maupun luar negeri.

Namun bukan jumlah destinasi yang penting bagi saya. Bukan jenis makanan atau minuman yang pernah saya jajal, bukan lagi kenyamanan hotel tempat menginap, atau pemandangan spektakuler baik dibawah laut maupun dipuncak gunung yang ingin dilihat. Saya hanya anggap semuanya sebagai bonus atas misi utama dalam sebuah perjalanan.

Ya, misi utama saya adalah menyesap budaya, larut dalam kelokalan. Belajar mengenai beragam hal baru, baik sesuai dengan minat maupun tidak. Yang pasti saya merasa sangat beruntung jika mampu menemukan kebijakan dan pengalaman langsung sebagai bekal untuk menjalani hidup walau hanya dalam kunjungan singkat sebagai turis. Jalan-jalan di belantara Shanghai atau Seoul, bagi saya semua sama. Mampu atau tidaknya melihat hal-hal dibalik fasad realita, itulah yang membuat perjalanan berbeda dan memiliki arti.

Naïf? Mungkin. Amatir? Bisa. Saya memang bukan pejalan yang telah menapak lebih dari 30 negara. Saya juga bukan orang yang pernah tinggal bertahun-tahun di negeri orang untuk kemudian merasa sahih ditasbih sebagai pejalan ‘profesional’. Saya hanya manusia biasa yang semakin banyak tahu semakin sadar bahwa pengetahuan yang saya miliki ini tidaklah seberapa. Sesederhana itu, tidak lebih.

Yang pasti saya percaya bahwa ‘Good travels make you humble’.

@Jejakaki

Image

Indonesia memiliki beragam destinasi wisata menarik.  Mulai arsitektur hingga gastronomi, wisata bawah laut hingga budaya, negeri ini memiliki semuanya. Namun dengan banyaknya pilihan, terkadang kita menjadi sulit memilih daerah mana yang akan dituju untuk menghabiskan liburan akhir pekan atau cuti tahunan. Nah, sebelum memutuskan untuk jalan-jalan ke Wakatobi atau Bandung, berikut adalah lima tips penting untuk jalan-jalan di dalam negeri.

Tentukan tujuan. Cari destinasi dengan menyesuaikan minat, waktu yang dimiliki dan dana yang telah dianggarkan. Penggemar selam yang memiliki waktu diatas satu minggu dan dana cukup misalnya, dapat memilih Maratua sebagai tujuan, sementara jika waktu terbatas dan dana minim kamu dapat menyelam di pulau Seribu.

Pilih momen yang pas. Baik destinasi alam maupun budaya, ada momen tertentu dimana kamu akan mendapatkan pengalaman lebih jika berkunjung di waktu-waktu khusus. Contoh: berkunjung ke Nusa Penida  bulan Juli-Agustus untuk melihat ikan Mola-mola yang unik atau jalan-jalan ke Yogyakarta saat festival Sekaten. 

Pertimbangkan sarana transportasi. Pesawat udara, kereta api, bis, atau bahkan roadtrip dengan kendaraan pribadi, pilih sesuai dengan jarak, waktu yang dimiliki dan kenyamanan yang diinginkan. Road trip ke Teluk Kiluan cukup menantang, sementara daytrip ke Bandung menggunakan kereta api juga menarik untuk dilakukan. Punya waktu seminggu dan ingin melakukan roadtrip ke Bali? pikir-pikir dulu ya!

Sendiri, bersama teman, atau ikut tur? Pergi sendiri mengunjungi tempat baru akan memberikan perspektif dan pengalaman berbeda sekaligus melatih kemandirian, sementara dengan berwisata bersama teman atau tur kecil kamu akan memiliki kawan untuk berdiskusi dan berbagi biaya (minimal transportasi dan akomodasi).  Mana yang lebih baik? Hanya kamu yang tahu jawabannya.

Sesuaikan barang bawaan dengan destinasi tujuan. Pilihan pakaian, tas yang akan digunakan, hingga obat-obatan pribadi sebaiknya diperhatikan dengan baik. Membawa koper beroda untuk mendaki Rinjani atau mengenakan sepatu kulit saat berwisata ke Krakatau tentu bukan pilihan bijak, kan? 

@jeJAKAki

Suasana hotel Oberoi Lombok. Sumber foto: Hotel Oberoi Lombok

Hari ini (14/11) seharusnya saya berangkat ke Lombok bersama Cici dan Anan dari Thinkweb. Namun karena kesibukan, kembali saya harus membatalkan perjalanan ini. Ini adalah kali ke-4 saya melewatkan kesempatan untuk berkunjung ke Lombok. Sedih ya?

Padahal saya INGIN sekali pergi ke Lombok. Betapa tidak, banyak teman yang bilang dan penulis travel bercerita bahwa Lombok adalah Bali tempo dulu. Alam yang masih terjaga baik dan ragam budaya yang menarik membuat kawasan di propinsi Nusa Tenggara Barat ini mengundang banyak turis lokal dan mancanegara datang untuk mencicipi keindahannya.

Tingginya minat untuk mengunjungi Lombok membuat saya beberapa tahun lalu mendaftar enam hal berikut yang ingin dinikmati saat mendapatkan kesempatan ke pulau ini. Apa saja?

Kecantikan Gili. Ini adalah alasan utama mengapa saya ingin berkunjung ke Lombok. Ya, Lombok memang memiliki banyak pulau kecil atau gili dengan suasana tropis yang eksotis. Beberapa yang paling terkenal adalah Gili Trawangan, Gili Air dan Gili Meno. Ketiganya terletak berdekatan dan telah dilengkapi berbagai fasilitas seperti hotel dan restoran. Saking populernya, terdapat jalur transportasi langsung menuju tiga gili tersebut dari Bali. Jika ada kesempatan saya malah ingin berkunjung ke pulau-pulau yang lebih sepi seperti Nanggu, Kedis, Tangkong, Sudak, Kondo dan lainnya yang tidak kalah menarik untuk dijelajahi. Karena saya tidak menyelam, kesempatan untuk snorkeling atau berenang di perairannya yang jernih sudah cukup memuaskan hati.

Ragam pantai yang memesona. Panorama yang ditawarkan pantai-pantai di berbagai penjuru Lombok memang tidak ada duanya. Setelah puas dengan Senggigi yang penuh resor, saya ingin berkunjung ke pantai Kuta ( Tanjung Aan) yang menawan atau Pantai Mawun yang tidak kalah seru. Pantai Sira di bagian utara kabarnya menawarkan keindahan alam bawah laut. Masih ada lagi pantai Tangsi dan Tanjung Ringgit. Oh ya, tempat menginap di Lombok yang tampaknya nyaman (dan mahal) adalah Sheraton Senggigi, Tugu Lombok, dan Oberoi.

Gunung Rinjani. Bagaimana ya rasanya menaklukkan Rinjani? Sebagai gunung berapi kedua tertinggi di Indonesia ( 3726 meter dari atas permukaan laut), puncaknya menawarkan pemandangan seputar Lombok yang sangat menarik. Jika cuaca cerah, gunung Agung di Bali, Tambora di Sumbawa, bahkan Ijen dan Merapi di Jawa Timur kabarnya dapat terlihat! Telaga Segara Anak, beberapa air terjun, hingga ragam vegetasi di taman nasionalnya membuat Rinjani surga bagi para pecinta alam. Andai saja ada cara ‘cepat’ untuk bisa naik ke puncaknya, saya mau!!

Desa Tradisional. Beragam desa adat dengan ragam arsitektur bangunan khas serta nafas budaya yang masih terasa juga kabarnya sangat menarik.  Setelah mengunjungi Desa Sade dan Segenter saya ingin singgah di desa Sembalun yang terletak di kaki gunung Rinjani. Berinteraksi dengan penduduk setempat dalam keseharian mereka dan melihat langsung proses pembuatan berbagai kerajinan khas seperti songket atau gerabah pasti akan menambah khasanah budaya saya.

Festival budaya. Lombok memiliki beberapa kegiatan unik yang diselenggarakan pada waktu-waktu tertentu. Yang paling terkenal adalah festival Bau Nyale, biasa digelar oleh masyarakat Sasak di Lombok Tengah. Diselenggarakan setahun sekali pada bulan Februari/Maret, masyarakat beramai-ramai menangkap nyale/cacing laut yang muncul di pantai Seger Kuta.

Humm, Februari atau Maret 2013?

Mutiara. Tahukah kamu bahwa Lombok juga dikenal sebagai penghasil mutiara berkualitas tinggi? Disinilah tempat mutiara Laut Selatan (South Sea Pearl) yang memiliki nilai sangat tinggi dibudidayakan. Karena besarnya nilai ekspor yang dihasilkan, pemerintah setempat selama beberapa tahun terakhir ini menyelenggarakan festival Mutiara, dimana pengunjung diberikan kesempatan untuk mengenal lebih jauh produk berharga khas Lombok ini. Saya sih inginnya berkunjung ke peternakan mutiara dan melihat langsung proses pembudidayaannya. Ada yang bisa bantu?

Kamu mengetahui hal menarik lainnya tentang Lombok? Tolong kasih tahu ya!

@jeJAKAki

Interior Masjid Niujie, Beijing dengan nuansa warna merah dan emas.

Kali ini saya akan bercerita tentang sebuah pengalaman yang dipetik dalam kunjungan ke Beijing tahun 2011 lalu. Waktu itu hari Jumat, saat dimana semua laki-laki muslim diwajibkan beribadah tengah hari bersama. Saya berangkat seorang diri dari tempat menginap menggunakan metro dengan perhentian terakhir di Caishikou. Dari stasiun ini saya berjalan kaki menuju kawasan Xuanwu yang banyak dihuni oleh suku Hui, salah satu minoritas di China yang mayoritas menganut agama Islam.

Rumah pemotongan hewan berlogo halal, restoran dengan logo tulisan arab, serta pria dengan peci khas berwarna putih dan wanita yang mengenakan selendang di kepala menjadi pemandangan berbeda di sudut kota metropolis ini. Saya kemudian melanjutkan perjalanan menuju masjid Niu Jie, pusat peribadahan umat muslim tertua di kota ini yang berdiri sejak abad ke-10. Nuansa merah dan emas mendominasi interior masjid yang menjelang tengah hari mulai dipadati oleh umat berbagai bangsa. Di sisi kiri dan kanan masjid terdapat kursi dan meja tempat para orang tua duduk dan membaca kitab suci sambil menunggu adzan.

Saya melihat sebuah peristiwa menarik menjelang adzan dan khutbah. Sekitar 10 orang masuk ke masjid yang mulai padat dan duduk bersila di dekat mimbar menghadap ke arah jemaah. Satu persatu, secara bergiliran, mereka membacakan surat-surat pendek dengan intonasi khas setempat. Saya tidak tahu apakah ini merupakan kebiasaan setempat atau bukan, tetapi mendengar mereka melafalkan ayat suci dengan lantang mengingatkan saya akan tradisi serupa waktu kelas pelajaran agama di sekolah dasar. Setelah itu khutbah Jumat dimulai, tentu saja dengan menggunakan bahasa setempat.

Total waktu yang saya habiskan di Niu Jie sekitar 2 jam, cukup lama bila dibandingkan dengan kegiatan Jumatan di negeri sendiri.  Namun pemandangan manusia dari berbagai ras dan latar belakang, dengan ciri khasnya masing-masing bersama-sama menghadap kiblat di sebuah negeri yang menjadi benteng terakhir komunisme menjadi rona tersendiri pada kunjungan saya ke ibukota negeri tirai bambu.

@jeJAKAki

Belanja koper vintage di Marché aux Puces St-Ouen de Clignancourt, Paris. Mau?

Bagi saya, dan mungkin juga sebagian dari pembaca blog ini, berbelanja di luar negeri memiliki gregetnya tersendiri. Ada yang bahkan menjadikannya sebagai kebiasaan tahunan. Mendapatkan barang tertentu yang tidak mudah ditemukan di tanah air, apalagi dengan harga masuk akal, tentu akan menjadi cerita tersendiri bagi mereka yang melek mode.

Siapa yang tidak kalap berbelanja di Hong Kong dengan barang branded yang harganya jauh lebih murah dibanding butik resmi di Plaza Indonesia atau produk KW yang lebih beragam dari Mangga Dua? Siapa yang tidak lapar mata saat berjalan-jalan di rangkaian mall yang berjajar rapi di Orchard Road Singapura dimana selalu ada saja mall yang mengadakan sale khusus? Siapa juga yang tidak tertarik untuk berbelanja di Paris dimana produk tas kulit buatan rumah mode ternama dibanderol nyaris separuh harga di dalam negeri, ditambah kesempatan mendapatkan tax refund sekitar 10%?

Agar kamu mendapatkan hasil belanja yang maksimal dan kembali ke tanah air membawa barang-barang totally worth it, saya berbagi 10 tips berikut ini.

1. Tentukan barang yang diminati sejak awal. Ada baiknya kamu mengetahui dengan jelas kegunaan, ukuran, detil warna dan bahan, atau jika perlu merek tertentu yang akan memudahkan pencarian. Jika ingin berbelanja produk rumah tangga misalnya, masuk saja terlebih dahulu ke website Ikea dan pilih barang yang diinginkan. Jika kamu ingin berbelanja di berbagai branded boutique di Roma, buka dulu website mereka atau kenali produk season terbaru yang dapat dilihat dengan mudah di majalah-majalah ternama.

2. Ketahui ‘musim’ belanja di negara tujuan. Beberapa destinasi belanja seperti Singapura dan Hongkong, biasanya memiliki periode belanja tertentu  dimana banyak toko akan mengadakan promosi dan potongan harga. Biasanya sale berbagai fashion brand terjadi pada pergantian season (Januari-Februari atau Juli-Agustus). Bila berkunjung diluar musim potongan harga, cari informasi tentang berbagai factory outlet yang menjual barang-barang bermerek dengan potongan harga besar sepanjang tahun.

3. Isi perut terlebih dahulu. Pastikan perut tidak dalam keadaan lapar ketika berbelanja. Selain tidak nyaman, secara psikologis kamu akan cenderung malas berpikir atau bahkan hilang mood untuk berbelanja. Jangan lupa untuk membawa air mineral agar terhindar dari dehidrasi dan permen agar asupan gula tetap terjaga.

4. Safety First. Simpan barang berharga dengan baik. jika perlu tinggalkan barang-barang penting seperti paspor dan perhiasan di safe deposit box yang tersedia di kamar. Usahakan untuk menyimpan uang kontan di saku yang aman. Demi keamanan sebaiknya belanja dengan menggunakan kartu kredit.

5. Perfect Outfit. Kenakan pakaian yang nyaman dan sopan, sesuai dengan iklim dan budaya setempat. Jika ingin berbelanja pakaian, kenakan busana basic yang mudah di lepas dan dipadupadankan. Sebaiknya gunakan sandal atau sepatu jalan yang ringan agar kaki tidak terasa pegal di penghujung hari.

6. Bandingkan harga & tawar. Kunci dari berbelanja yang sukses diawali dengan hati yang tenang dan sifat yang teliti dalam memilih barang. Jika melihat sesuatu yang diminati, jangan terburu-buru membeli karena alasan takut tidak menemukan barang seperti itu lagi. Jalan beberapa langkah, dan cek di toko sebelah ataupun tempat lain, mungkin kamu akan mendapatkan deal yang lebih baik. Untuk beberapa kasus, jika harga dan barangnya memang pas dengan selera, langsung beli atau kamu akan menyesal di kemudian hari! Gunakan kalkulator di ponsel untuk tawar menawar bila ada kendala bahasa.

7. Tax Refund Scheme. Di beberapa negara surga belanja seperti Singapura, Hongkong dan Perancis kamu dapat melakukan klaim pajak atas barang belanjaan dengan nominal tertentu. Pastikan untuk menyimpan semua struk lengkap dan jangan lewatkan untuk mencari tahu informasi tentang aturan tax refund di negara tujuan.

8. Bawa Koper Lebih. Pepatah mengatakan, ‘Sedia Payung Sebelum Hujan’. Jika kamu adalah tukang belanja yang sering kalap, bawalah tas besar yang hanya berisi sedikit barang sehingga kamu memiliki banyak ruang lebih yang dapat diisi setelah perjalanan usai. Jika masih kurang jangan lupa untuk membawa tas yang mudah dilipat (foldable) seperti tas gym atau duffel bag.

9. Kontrol nafsu belanja. Berhati-hati untuk tidak membeli barang – barang karena mengikuti emosi atau karena tergiur oleh harga yang murah. Jangan termakan bujuk rayu sang pramuniaga hanya karena produk yang ditawarkan pas dengan busana yang sedang kamu pakai. Belanjalah sesuai dengan kemampuan. Limit kartu kredit kamu mungkin masih cukup untuk membeli tas kulit Mulberry idaman atau flats Lanvin yang telah lama diimpikan. Namun kamu tidak ingin pulang dengan tagihan kartu kredit yang membumbung tinggi, bukan?

10. Bring your own shopping bag. Kamu juga dapat berpartisipasi mendukung gerakan go green dengan membawa kantung belanja tersendiri. Masih ingat betapa banyak kantung pastik beraneka warna yang didapat ketika kalap berbelanja di Chatucak Bangkok atau Temple Street Hong Kong akhirnya terbuang percuma? Tidak ada salahnya jika kamu menyiapkan tas untuk diisi hasil belanjaan karena selain tetap tampil trendi, kamu pun mendukung pelestarian lingkungan hidup.

Hello from Sukuh Temple!

I’ve been to Solo a couple of times and always find something new to explore here. From exquisite batik maker mansions in Laweyan to the delicious rice-based dish called Liwet, Solo never fails to show me the charm of Javanese culture. Easy access and wide range of accommodation make Surakarta (another alias for Solo) as one of my favorite escapes.

Last June I had the chance to visit the city again. This time, I made it with three friends from Jakarta and two Couchsurfing buddies from Spain. The agenda was to attend one of the biggest art and culture festivals in Indonesia, the Solo Batik Carnival. But before the merry festival started, my Solo friend took the six of us to an ancient monument outside the city towards Mount Lawu. Two hours driving with some stops to fulfill our culinary appetite -Solo is also famous for its food- we finally arrived at Sukuh Temple. Secluded in the mountains, Sukuh stands majestically as one of the most unique Hindu temples in all of Southeast Asia. Why would I say that?

From the shape, you can recognize the resemblance with other outstanding structures in Egypt or Peru. What makes it different is that this Asia’s only pyramid features a lot of carvings with sexual images and naked figures that differentiate it with other more famous temples like Borobudur or Prambanan. The erotic aura is so strong that even after hundreds of years people still can quite understand what the temple was made for. No, not for the famous Hugh Hefner of the Playboy Mansion, of course. Instead it was dedicated by the Hindu for the Gods of fertility.

Here’s a photo of me standing in front of the pyramid-shape temple. As the place is definitely off the tourist trail you can see that there were not many people come to see this magnificent construction. On your visit to Solo, make sure to include Sukuh Temple in your itinerary and if you ever see Mr. Hefner around, take a picture of him and send it to me!

@jeJAKAki

Pesepeda di depan Danish Design Center

Saat berkunjung ke Copenhagen saya sempat menggunakan sepeda pinjaman dari hotel untuk mengelilingi kota beberapa kali. Sambil mengayuh sepeda, saya mengamati kebiasaan masyarakat yang tinggal di ibukota Denmark ini. Disepanjang jalan yang saya lalui tampak warga kota berlalu lalang menggunakan sepeda berbagai jenis dan warna. Baik pagi, siang, ataupun sore hari, penduduk kota tampak mengayuh sepeda memadati jalur khusus yang ada di kiri dan kanan jalan menuju tempatnya beraktivitas. Menariknya, tidak ada petugas khusus yang berjaga di setiap belokan untuk menjaga ketertiban. Semua dapat berjalan lancar karena masyarakatnya patuh terhadap peraturan. Jika sesekali ada yang nyeleneh, dapat dipastikan pelakunya adalah turis (seperti saya).

Julukan sebagai kota sepeda tampaknya memang benar adanya. Eksekutif muda yang mengenakan jas dan sepatu resmi, anak sekolah dengan seragam olahraga, ibu muda yang membawa balita di sadel khusus, semua menggunakan sepeda sebagai sarana transportasi sehari-hari tanpa mengurangi gengsi. Beberapa sepeda yang telah dimodifikasi, misalnya dengan menambahkan bak untuk mengangkut barang atau anak-anak, juga tampak di jalan. Begitu banyaknya pengguna sepeda sehingga tidak heran jika statistik mengatakan bahwa hampir 60% warga Copenhagen menggunakan sepeda sebagai sarana transportasi utama! Topografi kota yang mendatar, jalur khusus yang dibangun oleh pemerintah (kabarnya mencapai panjang hampir 400 km), fasilitas bike sharing Bycyklen Kobenhavn, serta udara yang bersih membuat warga setempat memilih sepeda sebagai kendaraan sehari-hari. Sebuah pilihan yang sehat, bijaksana, dan ramah lingkungan.

Saat ini di Indonesia baru kota Bandung saja yang telah bertindak nyata memasyarakatkan sepeda untuk menjadi keseharian warga dan pengunjung kota dengan membuat jalur sepeda khusus dan program bike sharing @bikebdg. Walau hasilnya belum terasa maksimal, program ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya sepeda sebagai alat transportasi yang ramah lingkungan. Di Jakarta, aktivitasnya baru sebatas pengembangan komunitas seperti Bike To Work serta program car free day sebulan sekali.

“Life is like riding a bicycle. To keep your balance, you must keep moving.”                                               – Albert Einstein

@JeJAKAki

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: